Bimata

Berita Terpercaya Indonesia

21 Mei 2026

Beranda
Nasional
Internasional
Ekonomi
Olahraga
Teknologi
Hiburan
Gaya Hidup
Opini Publik
✍ Kirim Tulisan

Trending

  1. 1
    Semangat Hari Kartini, Polwan Polda Metro Jaya Hadir Lewat Edukasi dan Bakti Sosial

    Nasional·30 hari yang lalu

  2. 2
    Polda Metro Jaya Bongkar Elpiji Subsidi Oplosan, Senilai Hingga Rp 2 Milyar

    Nasional·sekitar 1 bulan yang lalu

  3. 3
    Komisi V DPR Apresiasi Kenaikan Biaya Tiket Haji Ditanggung Pemerintah

    Nasional·sekitar 1 bulan yang lalu

  4. 4
    Polri: Hari Ke-13 Operasi Ketupat 2026 Kondusif, Arus Balik Mulai Meningkat

    Nasional·sekitar 2 bulan yang lalu

  5. 5
    Di Pelabuhan Merak, Tim Itwasum Polri Cek Kesiapan Personel Jelang Idul Fitri

    Nasional·2 bulan yang lalu

  6. 6
    Ekspor Produk Perikanan RI Meroket, Capai 6,27 Miliar Dolar AS Tahun 2025

    Nasional·sekitar 1 bulan yang lalu

Lihat semua trending →

Topik Populer

#Indonesia0#Olahraga0#Pemerintah0#Lingkungan0#Politik0#Hiburan0#Teknologi0#Ekonomi0#Internasional0#Kesehatan0
Bimata

Berita Terpercaya Indonesia. Portal berita digital terpercaya — aktual, berimbang, mendalam.

FacebookInstagramTwitter / X

Kategori

  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Opini Publik

Perusahaan

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat & Ketentuan

Newsletter

Berita pilihan langsung ke inbox Anda setiap pagi.

© 2026 Bimata — Berita Terpercaya Indonesia. Seluruh hak cipta dilindungi.

RSSAtom
BerandaPendidikanTak Lagi Gemar Berkelahi, Sekolah Rakyat Kupang Jadi Ruang Pemulihan Sosial Anak Miskin Ekstrem
Pendidikan

Tak Lagi Gemar Berkelahi, Sekolah Rakyat Kupang Jadi Ruang Pemulihan Sosial Anak Miskin Ekstrem

A
Admin Bimata
15 Januari 20262 menit baca4 dilihat

Kupang – Sekolah Rakyat tidak hanya berfungsi sebagai ruang belajar akademik, tetapi juga menjadi ruang pemulihan sosial dan emosional bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem. Hal ini tampak dari perubahan perilaku siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 Kupang setelah hampir enam bulan tinggal dan belajar di lingkungan berasrama.

Miguel Antonio Gusmao, Wali Asuh SRMP 19 Kupang, mengatakan sebagian besar siswa berasal dari keluarga desil 1 dan desil 2, kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah. Kondisi sosial tersebut sangat memengaruhi karakter awal anak-anak saat pertama kali masuk sekolah.

“Sejak awal mereka masuk memiliki karakter yang sulit untuk dibentuk. Mereka sering emosional, suka berkelahi, suka mencaci maki temannya, suka ribut dengan suara-suara keras, teriak dengan suara keras tanpa terkontrol,” ujar Mighy, sapaan akrab Miguel saat ditemui di SRMP 19, Kompleks Setra Efata, Kupang, beberapa waktu lalu.

Baca Juga
Nasional

Sekolah Rakyat Diperluas, Budiman: Investasi Masa Depan untuk Putus Rantai Kemiskinan

Nasional

Mimpi Prabowo: Semua Rakyat Indonesia Makan Cukup, Sehat, Anak Sekolah Baik, Penghasilan Cukup

Ia menjelaskan, anak-anak tersebut sebelumnya tumbuh dengan keterbatasan perhatian, pola asuh yang tidak utuh, serta minim rasa aman. Kondisi itu berdampak pada kemampuan komunikasi sosial dan pengendalian emosi.

Namun, perubahan signifikan mulai terlihat setelah beberapa bulan mengikuti pendidikan dan kehidupan berasrama di Sekolah Rakyat. Saat ini, kata Mighy, anak-anak jauh lebih tenang, lebih sopan, tidak lagi berteriak sembarangan, dan konflik antarsiswa jauh berkurang.

“Kalau dulu di awal-awal pasti ada yang nangis, pasti saja ada yang bilang ini bully, ini bully. Tapi sekarang sudah kita minimalisir. Puji Tuhan cukup baik untuk saat ini,” kata Mighy.

Menurutnya, kunci perubahan tersebut terletak pada pendekatan pengasuhan berbasis kasih sayang yang diterapkan di Sekolah Rakyat. Para wali asuh diposisikan sebagai pengganti orang tua, bukan sekadar pengawas asrama.

“Kita melayani mereka dengan penuh kasih sayang, harus merasa bahwa mereka memang benar-benar anak kita. Bukan anak yang kita asuh dari orang lain, tapi memang bagian dari anak kita sendiri,” ujarnya.

Selain pembinaan karakter, Sekolah Rakyat juga menghadirkan keteraturan hidup yang sebelumnya jarang dirasakan para siswa, mulai dari jadwal makan yang teratur, lingkungan yang bersih dan aman, hingga aktivitas bersama yang mendorong keberanian tampil dan berinteraksi.

“Anak-anak terus dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan yang ada. Pada akhirnya mereka mulai berubah dan tidak takut lagi, walaupun memang masih ada satu dua yang mentalnya belum pede,” tambah Mighy.

Komunikasi dengan orang tua atau wali siswa juga terus dijaga, baik melalui sambungan telepon maupun kunjungan rutin setiap akhir bulan. Dalam pertemuan tersebut, pihak sekolah menyampaikan perkembangan anak sekaligus menerima masukan dari keluarga.

Mighy menilai, Sekolah Rakyat merupakan langkah strategis pemerintah dalam memutus mata rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan, terutama bagi kelompok masyarakat yang selama ini sulit mengakses layanan pendidikan berkualitas. “Bagi orang-orang yang tidak mampu, jalurnya hanya satu menurut saya, lewat jalur pendidikan,” ujarnya.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto atas inisiatif pendirian Sekolah Rakyat yang menyasar langsung kelompok masyarakat paling rentan.

“Sebagai wali asuh dan sebagai warga negara Indonesia, saya sangat berterima kasih kepada Pak Presiden, Pak Prabowo, karena punya niat baik dan hati yang tulus untuk membangun Sekolah Rakyat. Harapan kami dengan pendidikan ini, mata rantai kemiskinan itu bisa putus,” pungkasnya.

Bagikan:WhatsAppXFacebookTelegram
A

Admin Bimata

Penulis

Pemimpin redaksi portal berita Bimata.

Lihat semua artikel

Berita Terkait

Lihat semua
Nasional

Sekolah Rakyat Diperluas, Budiman: Investasi Masa Depan untuk Putus Rantai Kemiskinan

Admin Bimata·2 bulan yang lalu·2 mnt
Nasional

Mimpi Prabowo: Semua Rakyat Indonesia Makan Cukup, Sehat, Anak Sekolah Baik, Penghasilan Cukup

Admin Bimata·4 bulan yang lalu·1 mnt
Nasional

Jembatan Gantung Cisurupan Garut Hadir, Pelajar Tak Lagi Bolos Sekolah karena Terhadang Banjir

Admin Bimata·4 bulan yang lalu·2 mnt
Pendidikan

454 Toilet dan 478 Sekolah Diperbaiki, Pemerintah Percepat Perbaikan Pendidikan di Daerah Transmigrasi

Admin Bimata·2 bulan yang lalu·2 mnt

Diperbarui: sekitar 6 jam yang lalu

Komentar (0)

Masuk untuk berkomentar.